Kamis, 17 Maret 2011

Baik menurut kita, belum tentu baik menurut allah


Mungkin kita pernah menginginkan sesuatu kebaikan terhadap diri kita sendiri, namun sering kali kita tidak mendapatkannya, karena bisa jadi kebaikan yang kita inginkan tersebut belum tentu membawa kabaikan bagi diri kita. Begitu pula sebaliknya suatu kejelekan belum tentu membawa kejelekan pula bagi diri kita. Sebuah kisah dibawah ini menggambarkan suatu keadaan dimana keadaan yang kurang menguntungkan menjadi suatu kebaikan bagi seseorang.

Suatu ketika terdapat seorang nenek yang setiap harinya bekerja sebagai penjual tempe. Sang nenek menyiapkan tempe yang akan dijualnya pada malam hari dan kemudian akan dijual ke pasar keesokan harinya. Suatu saat, ketika pagi hari si nenek memeriksa tempe yang dibuatnya, alangkah terkejutnya si nenek karena tempe tersebut masih belum jadi padahal tempe tersebut akan dijual ke pasar. Dengan sabar si nenek berdo’a kepada Allah agar segera menjadikan tempe tersebut.

Setelah berdo’a, si nenek membawa tempe-tempe yg belum jadi tersebut ke pasar dengan harapan tempe tersebut telah jadi ketika sampai di pasar. Setelah sampai di pasar si nenek kembali memeriksa tempe tersebut, kembali hatinya kecewa karena tempe-tempe tersebut masih belum jadi juga. Dengan hati yang sedih nenek tersebut kembali berdo’a kepada Allah agar tempe tersebut jadi sehingga dapat dijual hari itu juga.

Hari semakin siang, pedagang yang lain mulai membereskan barang dagangannya. Tapi si nenek masih belum bisa menjual tempe miliknya. si nenek yang masih memiliki harapan kemudian kembali memeriksa tempe-tempe nya. Namun si nenek semakin sedih dan putus asa karena tempe tersebut masih belum jadi. Akhirnya untuk terakhir kalinya si nenek tersebut berdo’a “Ya Allah, jadikanlah tempe-tempe ini, apabila hamba tidak dapat menjual tempe-tempe ini maka hamba dan keluarga hamba tidak dapat makan pada esok hari”.

Setelah berdo’a si nenek kembali menunggui dagangannya, tidak lama setelah itu datang seorang ibu menghampirinya. si ibu bertanya kepada si nenek “apakah nenek menjual tempe yang belum jadi?”, dengan perasaan heran si nenek bertanya “kenapa ibu hendak membeli tempe yang belum jadi”. Si ibu menjawab “tempe yang belum jadi tersebut akan dikirimkan ke anaknya yang berada diluar kota, dengan harapan ketika sampai tempe tersebut telah jadi”.

Mendengar jawaban si ibu, kemudian si nenek berdo’a kepada Allah “Ya Allah, hamba menarik kembali semua permintaan hamba sebelumnya, biarkan tempe ini belum jadi”. Kemudian si nenek memeriksa tempe tersebut dan ternyata memang masih belum jadi. Alangkah bahagianya si nenek pemintaannya terkabulkan dan akhirnya si nenek tersebut dapat menjual semua tempenya kepada si ibu tersebut

0 komentar:

Posting Komentar